Menurut Buku Babat Gresik, Giri Kedaton
adalah sebuah kerajaan agama Islam di daerah Gresik, Jawa Timur sekitar abad
ke-15 sampai 17. Kerajaan ini pernah berjaya sebagai pusat agama Islam yang
pengaruhnya bahkan sampai menyebar ke daerah Maluku. Situs Giri Kedaton
merupakan istana atau pusat pemerintahan dan pusat penyebaran agama islam. Pada
tahun 1408 Saka atau 1486 M, Raden Paku mendirikan sebuah tempat bernama Kedaton
Tundo Pitu atau Istana bertingkat tujuh. Suatu ketika dikisahkan, Raden Paku
pergi menemui ayahnya yang menjadi ulama di Pasai, bernama Maulana Ishak.
Ayahnya itu menyuruhnya untuk membangun sebuah pondok pesantren di daerah
Gresik.
Raden Paku menemukan tanah yang mirip dengan tempat tinggal ayahnya. Tanah
tersebut terletak di Bukit Giri. Di atas bukit itu didirikan sebuah pesantren
bernama Giri Kedaton. Raden Paku sebagai pemimpin bergelar Prabu Satmata, atau
Sunan Giri I, yang kepemimpinannya dilanjutkan oleh anak keturunannya.

Situs Giri Kedaton terletak di Desa
Sidomukti, Kebomas, Kabupaten Gresik, sekitar 200 M sebelah selatan dari
kompleks makam Sunan Giri. Situs ini banyak didatangi peziarah maupun wisatawan
umum untuk tempat bermunajad dan belajar sejarah bangunan kuno. Untuk mencapai
tempat ini anda harus mendaki sederetan anak tangga yang cukup melelahkan. Dipercaya
tempat ini merupakan tempat pengukuhan Raja-raja Islam Demak sampai Pajang.

Situs Giri Kedaton ini tersisa hanya anak
tangga yang berteras – teras atau berundak – undak, semakin ke atas semakin
kecil. Saat ini bangunan berundak ini terdiri atas lima teras. Antara teras satu
dengan teras yang lainnya ditandai dengan struktur dinding teras. Bangunan
teras berundak di situs Giri Kedaton sangat unik, karena pembentukan teras –
terasnya menyesuaikan dengan kontur tanah yang ada. Pola halaman tersusun
semakin ke atas semakin menyempit dan memusat di sudut barat daya, atau tidak
konsentris, dan di puncaknya biasanya diletakkan batu menhir. Bentuk bangunan
ini sudah dikenal sejak jaman prasejarah, khususnya jaman megalitik.
Adapun konsep pemilihan tempat yang tinggi adalah tempat yang suci sudah
dikenal sejak jaman prasejarah dan masa kebudayaan Hindu – Budha. Konsep ini
terus berlanjut hingga periode Islam di Jawa. Sehingga banyak bangunan Islam
pada awal perkembangannya didirikan di puncak bukit atau di gunung, seperti
komplek makam Sendang Dhuwur, komplek makam Sunan Drajad, komplek makam
Imogiri, dan lain sebagainya.

Pada halaman teras situs ini juga terdapat
fasilitas dan tinggalan arkeologi lainnya. berupa batu pelinggihan, kolam wudhu
dan dinding pagar kuno. Di belakang masjid terdapat pula makam Raden Supeno, putera
Sunan Giri yang meninggal ketika masih remaja.

Gallery

https://drive.google.com/drive/folders/1mZaigiDkhIucDYRC3LfVZY4qtxYWAZIP

Attraction Lainnya