Museum Surabaya merupakan gagasan dari Walikota Surabaya (Tri Rismaharini / Ibu Risma) yang menginginkan Kota Surabaya punya sebuah museum sendiri, yang mengoleksi benda-benda bersejarah bagi kota Surabaya. Terletak di pojokan Jl. Tunjungan dan Jl. Genteng,  di lantai 1 Gedung  Siola dan menjadi satu dengan Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap (UPTSA) dan kantor dari 11 OPD Kota Surabaya.

Koleksi Museum Surabaya lebih dari 1.000 benda bersejarah bagi kota Surabaya, sejak dipimpin oleh Wali Kota Surabaya pertama di zaman Belanda (burgermesteer) Mr. A Meyroos (1916-1921),  sampai dengan Wali Kota yang sekarang Tri Rismaharini (Bu Risma).

Koleksinya tidak terbatas pada benda-benda bersejarah pemerintah kota Surabaya, tetapi juga benda-benda lainnya yang pernah menjadi bagian dari sejarah kota Surabaya secara umum, termasuk benda milik warga Surabaya yang historis dan legendaris. Misalnya replika biola milik pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman, biola Srimulat, piano kuno milik penyanyi Gombloh yang terkenal dengan lagunya Kebyar-Kebyar, becak berwarna putih dan biru (becak siang dan malam), dan angguna (mobil angkutan serba guna). Yang tidak kalah unik adalah  buku-buku catatan kelahiran, kematian yang ditulis tangan yang dibuat pada 1800-an serta buku arsip nama-nama orang Belanda yang dikubur di pemakaman khusus orang belanda di Peneleh dan Ngagel. Di museum ini juga terdapat replika kuliner khas Surabaya antara lain rujak uleg, lontong balap, tahu tek serta model dapur dan peralatan masak memasak jaman dulu.

Di luar samping gedung museum, terdapat juga sebuah lokomotif uap kuno berwarna hitam yang pernah digunakan di zaman Belanda.

Museum Surabaya juga memamerkan puluhan foto kota Surabaya di zaman Belanda, di antaranya adalah foto kawasan pecinan Kembang Jepun di tahun 1931, yang di kala itu bernama Handelstraat, atau Jalan Perniagaan, dengan gapura khas Tionghoa-nya. Diberi nama Haglestraat dengan gapura berarsitektur Tionghoa itu karena di situlah pusat perdagangan grosir etnis Tionghoa, yang sampai  sekarang masih seperti itu. 

Saat Jepang menjajah, kawasan ini menjadi terkenal dengan sebutan “kembang Jepun”, karena banyak teman-teman wanita (“kembang”) Jepang (Jepun) yang tinggal di kawasan itu. Dari sinilah berasal nama Jalan Kembang Jepun, sampai sekarang. Museum dibuka setiap hari, mulai Pk. 09.00 sampai Pk.21.00, tanpa tiket masuk dan pada hari Senin tutup.

Gallery

https://drive.google.com/drive/folders/1bPFiIgq7_om9O1xuYdqfTsNRgTWJCeTf

Attraction Lainnya


ROWO BAYU

Rowo Bayu berada di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Telaga…

Read More