Sawunggaling adalah nama tokoh yang dikenal sebagai orang pertama yang membuka lahan di kawasan Surabaya Barat, beliau juga dikenal sebagai Adipati di Surabaya yang berani melawan penjajah Belanda. Beliau hidup pada kurun waktu tahun 1600 – 1700 an.

Berdasarkan cerita tutur yang turun temurun,  Sawunggaling adalah putra dari Jayengrono (Adipati Surabaya) dan Dewi Sangkrah yang  bermukim di daerah Lidah Wetan, sedangkan nama kecilnya adalah Joko Berek. Nama Sawunggaling merupakan  nama ayam jago milik Joko Berek, karena kegemarannya untuk adu ayam jago. Ketika dewasa Sawunggaling harus beradu ayam jago dengan saudara tirinya untuk membuktikan bahwa dia memang anak dari Adipati Jayengrono. Nama Sawunggaling mulai digunakan saat Joko Berek menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Surabaya. Kisah tentang Sawunggaling sering diangkat sebagai cerita ludruk atau ketoprak di Jawa Timur.

Makam Sawunggaling yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 2013 terletak di Jl. Lidah Wetan Gg III, Desa Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri (sebelah masjid Al Kubro). Di dalam area makam tersebut terdapat makam Sawunggaling, Dewi Sangkrah (Ibu Sawunggaling), Raden Ayu Pandan Sari (teman Sawunggaling), Mbah Buyut Suruh (pengasuh Dewi Sangkrah) dan Raden Karyosentono (Kusir Sawunggaling). Pada bulan Oktober warga kawasan Lidah Wetan menyelenggarakan even tahunan Kirab Budaya berupa karnaval dan napak tilas mengenang perjuangan Sawunggaling.

Gallery

MAKAM SAWUNGGALING – Google Drive

Attraction Lainnya