Tuban dikenal sebagai salah satu pusat destinasi wisata religi Jawa Timur. Selain karena terdapat makam Sunan Bonang, di Tuban juga terdapat makam para penyebar ajaran agama Islam lainnya yang banyak dikunjungi oleh peziarah. Salah satunya adalah Makam Bejagung Lor yang terletak di Desa Bejagung Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban. Lokasi DTW ini cukup strategis yakni hanya 3 kilometer sebelah selatan alun alun Tuban.

 

Syekh Abdullah Asyari atau Sunan Bejagung Lor diyakini pernah terlibat pertarungan heroik melawan Patih Majapahit, yakni Patih Gajah Mada.
Kisah bermula, karena semasa hidup, Sunan Bejagung Lor, dikenal sebagai sosok penyebar agama Islam yang gigih. Mudah bergaul dan diterima di semua lapisan masyarakat. Hal inilah yang membuat Kusumawardhani, yang tak lain adalah putra Raja Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit mendatanginya dan berkeinginan berguru ilmu agama kepada Sunan Bejagung Kidul.
Tapi sayang, niat belajar agama Islam putra Raja tidak mendapat restu dari kalangan kerajaan, termasuk orang tuanya. Mendengar kabar bahwa putranya akan belajar agama Islam, maka dengan cepat Raja Hayam Wuruk memerintahkan Patih Gajah Mada untuk segera menghadang niat Kusumawardhani. Sikap sang raja dipicu karena penerus kerajaan silsilahnya harus dari keturunan sang raja sendiri.
Kerajaan pun mengirimkan pasukan gajah dari Majapahit yang dipimpin Patih Gajah Mada untuk menyerang padepokan Sunan Bejagung. Namun dengan kesaktian yang dimiliki kanjeng Sunan, akhirnya pasukan gajah tersebut bisa disabda menjadi batu. Tempat berubahnya pasukan gajah menjadi batu, sekarang lebih dikenal dengan sebutan watu gajah (gajah batu). Disebut begitu karena di lokasi yang ada sekitar 2 kilometer di sisi utara makam Sunan Bejagung tersebut banyak batu besar yang bentuknya menyerupai gajah. Juru Kunci Makam Bejagung, Darmawan menceritakan, awalnya Patih Gajah Mada percaya diri bisa mengalahkan Sunan Bejagung Lor dengan mudah. Tetapi di desa itu dia justru kalah dan harus bertekuk lutut.

Kompleks Makam Sunan Bejagung Lor terletak di sebelah barat Masjid Syekh Asy’ari. Meski lokasinya cukup strategis, daya tarik wisata religi tersebut kurang populer di kalangan travel wisata religi karena jalan aksesnya cukup sulit dilewati bus besar. Hanya bus mini atau mobil penumpang yang bisa melintas. Selanjutnya, para peziarah bisa melanjutkan dengan jalan kaki.

Memasuki bulan Syakban atau menjelang Ramadan, banyak peziarah yang berkunjung baik dari sekitar Tuban maupun dari luar Provinsi. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk, cukup mengisi kotak amal yang tersedia dengan seikhlasnya.

Gallery

https://drive.google.com/drive/folders/1Bj7CDm-hNwnLPUODTeYymK_e1wFNeLfQ

Attraction Lainnya