Astana Srandil merupakan sebuah komplek makam yang berada di Bukit Srayu, Desa Srandil, Kecamatan Jambon, kurang lebih 11 km barat pusat kota Ponorogo. Astana Srandil adalah kompleks makam-makam bupati Suromoto, karena dulu Ponorogo terbagi menjadi 3 kabupaten, Polorejo, Kutho wetan dan Sumoroto. Di dalam kompleks pemakaman Astana Srandil terdapat sekitar 60 makam termasuk makam Raden Mertokusumo yang merupakan seorang pendukung Pangeran Diponegoro yang berasal dari Polorejo, makam Raden Mas Brotodirjo, bupati Sumoroto ke 3, serta makam Raden Mas Adipati Brotodiningrat bupati Sumoroto ke 4, dan beberapa makam keturunan bupati Sumoroto. Bagi anda yang ingin berkunjung ke astana srandil, sebaiknya dalam kondisi sehat karena medan menuju makam utama menanjak cukup curam sejauh 250 m.

 

Dalam segi arsitektur komplek bangunan Astana Srandil masih mempunyai ciri khas arsitektur kuno dengan gerbang yang masih berbentuk candi dan pesarean yang masih khas asimilasi jawa, hindu dan islam. Jika dibandingkan dengan makam-makam Islam yang ada di Nusantara, Astana Srandil termasuk pemakaman yang relatif muda usianya, yaitu dibangun pada abad ke-19. Namun ciri khas sebagai makam Islam Nusantara masih tetap melekat, seperti adanya pengaruh budaya asli bangsa Indonesia budaya Hindhu maupun budaya lokal jawa.

 

Seperti terlihat dengan adanya kori agung yaitu gapura yang berpintu dan beratap sebagai pintu gerbang tempat keluar masuk makam dari halaman pertama menuju halaman kedua dan ketiga. Kori agung merupakan peninggalan budaya agama Hindu yang berfungsi sebagai pintu gerbang bangunan candi. Setelah Islam mulai berkembang, kori agung dijadikan sebagai pintu gerbang makam dan pintu gerbang masjid. Kori agung atau gapura pada Astana Srandil yang atapnya berbentuk “limasan” adalah bukti adanya pengaruh budaya kabupaten Ponorogo.

 

 

Astana Srandil terletak di areal perbukitan yang menganut pola pembagian pelataran menjadi tiga halaman. Halaman pertama berada di luar gedung, sedangkan pelataran kedua dan ketiga berada di dalam gedung. Pola pembagian pelataran menjadi tiga halaman tersebut merupakan budaya asli bangsa Indonesia, yakni menyerupai punden berundak-undak, yaitu tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang berbentuk piramida berteras, dimana bagian belakang lebih tinggi dari bagian depan.biasanya pada halaman belakang halaman ketiga terdapat makam yang paling dikeramatkan. 

Gallery

https://drive.google.com/drive/folders/1n0w3nIamEkaBvqgAC3I6YecYnyg3Lqdy

Attraction Lainnya